Sankrama Harsa: Mahasiswa UPI Hidupkan Tradisi Pernikahan Sunda Lewat Pagelaran Budaya

Image Jun 11, 2026, 07_09_12 PM
previous arrow
next arrow

BANDUNG — Suasana khidmat menyelimuti Gedung Achmad Sanusi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Rabu (10/6/2026), ketika alunan instrumen tradisional mulai bergema mengiringi pagelaran budaya bertajuk “Sankrama Harsa”. Harmoni gamelan buhun yang dipadukan dengan aransemen modern karya Pangrawit Badeur menghadirkan pengalaman artistik yang memukau sekaligus sarat makna.

Pagelaran yang digagas mahasiswa Angkatan 2023 (Aksatadharma) Semester 6 Program Studi Pendidikan Bahasa Sunda ini merupakan Ujian Akhir Semester (UAS) kolaboratif mata kuliah Kaprotokolan dan Kawih di bawah bimbingan Dr. Dian Hendrayana, S.S., M.Pd. Mengusung tema “Rawayan Jamparing Rasa, Rawayan Sétraning Tresna”, kegiatan tersebut menampilkan simulasi prosesi pernikahan adat Sunda yang dikemas secara megah, elegan, dan penuh nilai filosofis.

Sosok pengantin diperankan oleh Acep Nurul Mubarok dan Fazriah Fitri Haswidhi. Kesakralan prosesi semakin terasa dengan keterlibatan Muhammad Aditya Ilyasa dan Intan Ansoriah sebagai orang tua pengantin perempuan, serta Ari Pebriyana dan Ela Nurlaela sebagai orang tua pengantin laki-laki.

Ketua pelaksana kegiatan, Pramayuda Padmanegara, menjelaskan bahwa nama “Sankrama Harsa” dipilih karena mengandung filosofi mendalam mengenai makna pernikahan. Menurutnya, pernikahan merupakan sebuah rawayan (jembatan) yang menghubungkan dua keluarga untuk bersama-sama mengarungi kehidupan rumah tangga demi meraih cinta sejati.

Sankrama berarti jembatan, sedangkan Harsa bermakna cinta dan kebahagiaan. Pernikahan menjadi jembatan bagi calon pengantin untuk memperoleh kebahagiaan dan cinta yang sejati. Melalui kegiatan ini, kami berupaya menghidupkan kembali berbagai prosesi adat yang kini mulai jarang dipraktikkan, seperti buka pintu dan sérén tampi, dengan pendekatan yang lebih menarik dan inovatif,” ujar Pramayuda.

Melalui konsep Royal Wedding yang eksklusif dan artistik, mahasiswa Aksatadharma berhasil membuktikan bahwa tradisi leluhur dapat tetap hidup serta relevan ketika dipadukan dengan kreativitas generasi muda.

Wujud Nyata Pelestarian Budaya

Kegiatan ini juga menjadi refleksi tanggung jawab akademik mahasiswa Pendidikan Bahasa Sunda dalam upaya ngamumulé atau melestarikan warisan budaya Sunda. Semangat tersebut selaras dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang menekankan pentingnya perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan tradisi budaya Indonesia.

Selain menjadi sarana pembelajaran praktik, pagelaran ini membuktikan bahwa perguruan tinggi dapat berperan sebagai laboratorium hidup dalam menjaga keberlanjutan budaya lokal di tengah arus modernisasi.

Rangkaian acara diawali oleh duet pembawa acara Rahma Noor Maulida dan Agus Rahmat Hidayat, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Siti Rubaeah, laporan ketua pelaksana, serta sambutan dari dosen pengampu Dr. Dian Hendrayana, S.S., M.Pd. dan Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Sunda, Dr. Haris Santosa Nugraha, M.Pd.

Rekonstruksi Tradisi yang Puitis

Puncak keindahan pertunjukan mulai terasa pada prosesi Karesmén Mapag calon pengantin pria yang diikuti penyerahan simbolis manglé dan keris dari calon mertua. Salah satu inovasi paling menarik hadir pada sesi sérén tampi.

Jika pada umumnya prosesi tersebut disampaikan melalui pidato formal atau biantara, dalam pagelaran ini seluruh pesan sakral disampaikan melalui lantunan pupuh Kinanti yang dibawakan oleh Fazli dan Firly. Pendekatan tersebut menghadirkan nuansa sastra yang kuat sekaligus memperkaya bentuk ekspresi budaya Sunda.

Kejutan berikutnya muncul saat simulasi akad nikah berlangsung. Mengacu pada tradisi lama yang kini jarang dilakukan, pengantin perempuan dipingit selama proses ijab kabul. Prosesi tersebut turut menampilkan mahar simbolis berupa uang tunai senilai Rp20.260.000 sebagai representasi filosofis tahun pelaksanaan kegiatan.

Setelah ijab kabul dinyatakan sah, prosesi buka pintu digelar dengan pengawalan dua pasang pager ayu dan pager bagus. Momen pertemuan kedua mempelai berlangsung dramatis dan menyentuh ketika lantunan juru mamaos dari kedua pihak berakhir secara bergantian.

Meski seluruh rangkaian acara merupakan simulasi akademik untuk kepentingan UAS, suasana emosional yang tercipta berhasil membuat banyak penonton larut dalam kesakralan prosesi. Sejumlah mahasiswa, dosen, dan tamu undangan mengaku seolah tengah menghadiri pernikahan yang sesungguhnya.

Puncak haru terjadi saat prosesi sungkeman. Penjiwaan para pemeran yang begitu mendalam membuat sejumlah mahasiswa yang berperan sebagai pengantin maupun orang tua tak kuasa menahan air mata. Tangis haru yang pecah di atas pelaminan turut mengundang empati para penonton yang hadir.

Suasana kemudian kembali meriah saat memasuki prosesi bantayan yang dipimpin oleh Putra Aulianto, meliputi ritual nincak endog, meuleum harupat, dan meupeuskeun endog. Kemeriahan berlanjut melalui prosesi sawér yang diiringi lantunan juru sawér Delan Fiko dan Siska Amelia.

Melalui “Sankrama Harsa”, mahasiswa Aksatadharma tidak hanya berhasil menyelesaikan tugas akademik, tetapi juga menunjukkan bahwa tradisi Sunda dapat terus hidup, berkembang, dan dicintai oleh generasi masa kini. Pagelaran tersebut menjadi bukti bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas yang dapat terus dirawat dan dihidupkan melalui inovasi serta kreativitas generasi muda. (Windiana Nurhalisa_Mahasiswa Pend Bhs Sunda angkatan 2023)

Scroll to Top