Mahasiswa Tata Boga UPI Praktik Membuat Kudapan dan Minuman Khas Jawa Barat

Image May 18, 2026, 03_09_51 PM
previous arrow
next arrow

Program Studi Tata Boga Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali menggelar kegiatan praktik mata kuliah Kuliner Jawa Barat yang dilaksanakan setiap hari Senin pukul 07.00 hingga 11.00 WIB. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam pembelajaran mahasiswa untuk mengenal sekaligus melestarikan makanan tradisional khas Jawa Barat.

Dalam praktik tersebut, mahasiswa membuat berbagai jenis kudapan tradisional seperti burayot, gemblong, jalabria, sorabi, cuhcur, papais, katimus, apem, serabi, nagasari, putri noong dan beberapa kudapan khas lainnya. Selain itu, mahasiswa juga mempraktikkan pembuatan minuman tradisional seperti bajigur, bandrek, goyobod, es pala, hingga minuman es doger khas daerah Cirebon dan es ciming Purwakarta.

Ketua Program Studi Pendidikan Tata Boga 
Dr. Rita Patriasih, S.Pd., M.Si, menjelaskan bahwa mata kuliah Kuliner Jawa Barat merupakan salah satu mata kuliah khas di Program Studi Tata Boga UPI yang tidak dimiliki oleh program studi tata boga lainnya. Mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga diwajibkan mengenal filosofi, sejarah, dan praktik langsung pembuatan makanan tradisional.


“Mahasiswa sekarang lebih banyak mengenal makanan Korea atau Jepang, tetapi masih banyak yang belum mengetahui makanan khas Jawa Barat yang otentik. Karena itu, melalui praktik ini kami ingin mengingatkan dan mengenalkan kembali berbagai macam hidangan tradisional dalam rangka menjaga kelestarian kuliner khas tradisional Barat ,” ujarnya.

Dalam proses pembelajaran, mahasiswa terlebih dahulu mempelajari teori, melakukan observasi lapangan, mencari referensi, hingga mempresentasikan hasil temuannya sebelum melakukan praktik memasak. Mereka juga menerapkan lipatan daun tradisional sebagai bagian dari seni penyajian kuliner Sunda.

Tidak hanya soal rasa, mahasiswa juga dikenalkan pada filosofi makanan tradisional Jawa Barat. Contohnya kue Awug / Dodongkal berbentuk kerucut yang melambangkan gunung yang merepresentasikan rasa hormat kepada leluhur dan keseimbangan antara Tuhan, alam, dan manusia. Makna lainnya adalah adaya keseimbangan rasa: Adonan Awug berbahan dasar tepung beras melambangkan kebaikan, sementara lelehan gula merah di dalamnya mencerminkan manisnya kehidupan yang harus dijaga. Begitu pula beberapa kudapan khas yang biasa hadir dalam acara pernikahan adat Sunda, antara lain Wajit. Kudapan ini terbuat dari beras ketan, gula kawung dan santan kelapa yang dimasak hingga sangat kental lalu dicetak. Teksturnya padat, lengket, dan sangat manis. Filosofi kelengketan wajit melambangkan ikatan yang kuat dan tak mudah terputus antara dua keluarga. Gula kawung yang berwarna gelap dan alami melambangkan manisnya cinta yang tumbuh dari bumi. 

Kegiatan praktik ini diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan mahasiswa terhadap warisan kuliner daerah sekaligus menjaga eksistensi makanan tradisional Jawa Barat di tengah berkembangnya budaya kuliner modern

Scroll to Top