Panduan Pengembangan Video Pembelajaran

Panduan Pengembangan Video Pembelajaran

Perencanaan Video Pembelajaran

Sebelum memulai, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar video yang dihasilkan sesuai dengan tujuan pembelajaran dan mudah dipahami oleh mahasiswa.

Tidak. Tidak semua materi harus disajikan dalam bentuk video. Pertimbangkan hal-hal berikut:

  • Gunakan video jika materi membutuhkan demonstrasi, gerakan, ilustrasi, atau penjelasan visual.
  • Untuk materi yang hanya berisi informasi sederhana, bahan teks atau infografik mungkin lebih efektif.
  • Pastikan video membantu mahasiswa mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

Video dapat digunakan untuk berbagai jenis materi pembelajaran, antara lain:

Materi Video tepat ketika Media pendamping / alternatif
Fakta Objek, lokasi, atau konteks visual perlu ditunjukkan. Glosarium, teks, infografik.
Konsep Hubungan, contoh, atau perubahan perlu divisualisasikan. Diagram, bacaan, simulasi.
Prinsip Hubungan sebab-akibat atau penerapan perlu diperagakan. Studi kasus, simulasi.
Prosedur Urutan tindakan dan keterampilan perlu diamati. SOP, lembar kerja praktik.
Sikap / nilai Perilaku, dilema, atau konsekuensi perlu ditampilkan. Kasus tertulis, refleksi, diskusi.

Sebelum memulai produksi, pastikan video yang akan dikembangkan telah tercantum dalam dokumen Rencana Materi dan Peta Learning Object yang telah disusun sebelumnya. Selanjutnya, perhatikan hal-hal berikut:

  • Periksa kembali topik, cakupan materi, dan jenis video yang telah ditetapkan dalam Rencana Materi dan Peta Learning Object.
  • Susun naskah dan storyboard berdasarkan materi yang telah dipetakan.
  • Siapkan bahan pendukung, seperti slide, gambar, ilustrasi, animasi, atau contoh kasus.
  • Tentukan kebutuhan peralatan, lokasi, serta sumber daya produksi.
  • Pastikan naskah dan storyboard telah diperiksa sebelum proses perekaman dilakukan.

Pemilihan Format Penyajian Video

Video pembelajaran dapat dibuat dalam berbagai format sesuai dengan tujuan pembelajaran dan karakteristik materi. Pemilihan format yang tepat akan membantu menyampaikan materi secara lebih jelas, menarik, dan mudah dipahami mahasiswa. Satu video juga dapat menggabungkan beberapa format selama penyajiannya tetap runtut dan saling mendukung.

Terdapat berbagai format video yang dapat digunakan dalam pengembangan video pembelajaran di UPI, antara lain:

Lecture Capture

Lecture Capture

Video yang merekam kegiatan perkuliahan agar dapat ditonton kembali oleh mahasiswa.

Talking Head

Talking Head

Video yang menampilkan dosen atau pengajar berbicara langsung ke kamera untuk menjelaskan materi.

Lightboard Video

Lightboard Video

Video yang menampilkan dosen menjelaskan materi sambil menulis atau menggambar pada papan transparan.

Narrated Presentation

Narrated Presentation

Video yang menggabungkan slide presentasi, gambar, atau diagram dengan penjelasan suara.

Demonstration Video

Demonstration Video

Video yang memperlihatkan secara langsung langkah-langkah melakukan suatu kegiatan atau praktik.

Animation / Motion Graphics

Animation / Motion Graphics

Video yang menggunakan elemen animasi untuk menjelaskan konsep, proses, atau fenomena.

Interview / Discussion

Interview / Discussion

Video yang menampilkan percakapan atau diskusi bersama narasumber untuk membahas suatu topik.

Scenario / Field Video

Scenario / Field Video

Video yang menampilkan simulasi situasi tertentu atau kegiatan pengamatan langsung di lapangan.

Lecture Capture cocok digunakan untuk merekam kegiatan perkuliahan atau sesi pembelajaran yang perlu ditonton kembali oleh mahasiswa. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Pastikan suara dosen dan peserta yang berbicara terdengar jelas.
  • Gunakan posisi kamera yang memungkinkan dosen serta materi presentasi terlihat dengan baik.
  • Pastikan tulisan pada layar proyektor atau papan tulis dapat dibaca.
  • Jika rekaman berdurasi panjang, bagi menjadi beberapa bagian berdasarkan topik atau tambahkan penanda waktu (timestamp).
  • Perhatikan izin perekaman dan publikasi apabila video menampilkan mahasiswa atau peserta lain.

Talking Head cocok digunakan ketika dosen ingin memberikan penjelasan secara langsung, seperti menyampaikan konsep, pengantar materi, atau rangkuman pembelajaran. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Posisikan kamera sejajar dengan mata agar dosen terlihat berbicara langsung kepada mahasiswa.
  • Gunakan latar belakang yang sederhana dan tidak mengalihkan perhatian.
  • Pastikan wajah dosen mendapatkan pencahayaan yang cukup.
  • Sampaikan materi menggunakan bahasa yang jelas, komunikatif, dan tidak terlalu cepat.
  • Tambahkan teks, gambar, diagram, atau animasi jika diperlukan untuk memperjelas materi.

Lightboard Video cocok digunakan untuk menjelaskan materi yang membutuhkan proses menulis, menggambar, atau menguraikan konsep secara bertahap, seperti rumus matematika, diagram, dan hubungan antarkonsep. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Gunakan papan transparan dengan pencahayaan yang cukup dan tidak menimbulkan pantulan berlebihan.
  • Pastikan tulisan memiliki ukuran dan warna yang mudah dibaca.
  • Tulis atau gambar materi secara bertahap mengikuti penjelasan yang disampaikan.
  • Hindari memenuhi seluruh permukaan papan dengan tulisan.
  • Periksa orientasi tulisan pada hasil rekaman agar tidak terlihat terbalik.

Narrated Presentation cocok digunakan untuk menjelaskan konsep, teori, diagram, atau hasil analisis melalui slide presentasi yang disertai narasi suara. Format ini dapat dikembangkan dengan merekam penjelasan suara dosen melalui komputer atau laptop. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Susun slide secara runtut sesuai dengan alur materi yang akan dijelaskan.
  • Gunakan teks yang ringkas, gambar, diagram, grafik, atau ilustrasi yang relevan.
  • Hindari membaca seluruh teks pada slide tanpa memberikan penjelasan tambahan.
  • Pastikan narasi suara jelas dan sesuai dengan informasi yang sedang ditampilkan.
  • Gunakan penunjuk atau sorotan untuk membantu mahasiswa memperhatikan bagian penting.
  • Jika diperlukan, tampilkan wajah dosen melalui kamera atau webcam dalam ukuran kecil tanpa menutupi materi utama.

Demonstration/Practical Video cocok digunakan ketika mahasiswa perlu melihat secara langsung cara melakukan suatu prosedur, menggunakan alat, atau mempraktikkan keterampilan tertentu. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Jelaskan secara singkat tujuan kegiatan atau keterampilan yang akan didemonstrasikan.
  • Perkenalkan alat, bahan, atau perlengkapan yang diperlukan sebelum memulai praktik.
  • Tampilkan setiap langkah secara runtut dan disertai penjelasan yang mudah diikuti.
  • Gunakan pengambilan gambar jarak dekat (close-up) untuk memperjelas tindakan atau bagian penting.
  • Pastikan seluruh langkah penting terlihat dengan jelas dan tidak terpotong.
  • Tampilkan hasil akhir demonstrasi dan berikan arahan agar mahasiswa dapat mencoba atau mempraktikkannya secara mandiri.
  • Sertakan petunjuk keselamatan apabila demonstrasi melibatkan alat, bahan, atau prosedur yang memiliki risiko.

Animation/Motion Graphics cocok digunakan untuk menjelaskan konsep abstrak, proses yang sulit diamati secara langsung, atau fenomena yang membutuhkan visualisasi dinamis. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Gunakan animasi untuk memperlihatkan proses, perubahan, gerakan, atau hubungan antarkonsep.
  • Pilih bentuk visual yang sesuai dengan materi, seperti karakter animasi, ilustrasi bergerak, diagram, simbol, atau infografik.
  • Sajikan informasi secara bertahap agar mahasiswa dapat mengikuti proses yang dijelaskan.
  • Pastikan gerakan animasi selaras dengan narasi atau penjelasan materi.
  • Hindari penggunaan gerakan, efek visual, atau transisi berlebihan yang dapat mengalihkan perhatian mahasiswa.
  • Pastikan ilustrasi dan animasi yang digunakan menggambarkan konsep atau proses secara akurat.

Interview/Round Table Discussion cocok digunakan ketika materi membutuhkan penjelasan, pengalaman, atau sudut pandang dari dosen, praktisi, maupun pakar melalui wawancara atau diskusi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Tentukan topik dan pertanyaan utama yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.
  • Pilih narasumber yang memiliki kompetensi atau pengalaman sesuai dengan materi.
  • Gunakan format wawancara untuk menggali penjelasan atau pengalaman narasumber secara mendalam.
  • Gunakan format diskusi kelompok untuk menghadirkan berbagai perspektif terhadap suatu permasalahan.
  • Pastikan suara setiap pembicara terdengar jelas dan identitas narasumber dapat dikenali.
  • Jaga alur percakapan agar tetap fokus, terarah, dan mudah diikuti mahasiswa.
  • Akhiri pembahasan dengan rangkuman gagasan utama atau pertanyaan reflektif yang berkaitan dengan materi.

Scenario/Field Video cocok digunakan untuk menggambarkan situasi tertentu melalui simulasi atau menampilkan kegiatan pengamatan langsung di lingkungan nyata. Format ini membantu mahasiswa memahami penerapan konsep dalam konteks yang lebih konkret. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Gunakan video skenario untuk menggambarkan studi kasus, simulasi interaksi, pengambilan keputusan, atau situasi yang berkaitan dengan materi pembelajaran.
  • Gunakan video lapangan ketika mahasiswa perlu mengamati objek, aktivitas, lingkungan, atau fenomena secara langsung.
  • Tentukan situasi, objek, atau peristiwa yang menjadi fokus pembelajaran.
  • Pastikan adegan simulasi atau hasil pengamatan lapangan sesuai dengan konsep yang dipelajari.
  • Gunakan sudut pengambilan gambar yang memungkinkan mahasiswa melihat detail dan konteks penting.
  • Perhatikan kualitas audio, kondisi lingkungan, keselamatan, serta izin perekaman apabila dilakukan di lokasi tertentu.
  • Berikan pertanyaan pengamatan, analisis kasus, atau aktivitas refleksi agar mahasiswa dapat menghubungkan tayangan dengan materi pembelajaran.

Alur dan Durasi Video Pembelajaran

Setelah menentukan format video, langkah selanjutnya adalah menyusun alur penyajian materi dan menentukan durasi video pembelajaran. Alur dan durasi perlu disesuaikan dengan karakteristik setiap format agar materi dapat disampaikan secara runtut, jelas, dan mudah dipahami mahasiswa.

Setiap format video memiliki karakteristik penyajian yang berbeda. Oleh karena itu, alur video dapat disusun berdasarkan format yang telah dipilih pada tahap sebelumnya. Berikut rekomendasi alur penyajian untuk setiap format video pembelajaran:

1
Lecture Capture
Pembukaan Perkuliahan → Penyampaian Materi → Diskusi/Aktivitas Kelas → Penutup Perkuliahan
2
Talking Head
Pendahuluan → Isi → Kesimpulan → Penutup
3
Lightboard Video
Pengantar Konsep → Penjelasan/Penggambaran Bertahap → Pembahasan Hasil → Kesimpulan
4
Narrated Presentation
Pendahuluan → Penyajian Materi → Contoh/Analisis → Kesimpulan dan Penutup
5
Demonstration / Practical
Pengantar → Persiapan → Demonstrasi → Hasil dan Tindak Lanjut
6
Animation / Motion Graphics
Pengantar Konsep → Visualisasi/Penjelasan Bertahap → Penguatan Konsep → Kesimpulan
7
Interview / Discussion
Pengantar Topik → Pengenalan Narasumber → Wawancara/Diskusi → Rangkuman dan Refleksi
8
Scenario / Field Video
Pengenalan Konteks → Penyajian Skenario/Pengamatan → Analisis/Pembahasan → Refleksi dan Tindak Lanjut

Catatan:

  • Alur penyajian tersebut merupakan rekomendasi, bukan ketentuan yang bersifat mutlak.
  • Pengembang dapat menyesuaikan, menggabungkan, atau menambahkan tahapan sesuai karakteristik materi dan tujuan pembelajaran.
  • Khusus Lecture Capture, alur mengikuti kegiatan perkuliahan yang direkam dan tidak harus disusun ulang mengikuti struktur video produksi terencana.
  • Untuk Scenario/Field Video, tahapan analisis dapat disesuaikan dengan kegiatan, baik berupa simulasi kasus, pengamatan lapangan, maupun demonstrasi prosedur.

Durasi video perlu disesuaikan dengan format penyajian, tujuan pembelajaran, dan kompleksitas materi. Tidak seluruh format video harus memiliki durasi yang sama. Rekomendasi durasi berdasarkan format video pembelajaran tersedia pada tabel berikut:

Format Video Rekomendasi Durasi Keterangan
Lecture Capture Mengikuti durasi perkuliahan Rekaman dapat disajikan utuh atau dibagi menjadi beberapa segmen berdasarkan subtopik.
Talking Head 5–7 menit per topik Disarankan fokus pada satu topik atau tujuan utama pembelajaran.
Lightboard Video Disesuaikan dengan kompleksitas pembahasan Penjelasan rumus, diagram, atau proses berpikir perlu ditampilkan secara utuh dan tidak terburu-buru.
Narrated Presentation 5–7 menit per topik Materi yang panjang dapat dibagi menjadi beberapa video berdasarkan subtopik.
Demonstration/Practical Video Fleksibel Menyesuaikan jumlah dan kompleksitas langkah demonstrasi atau praktikum.
Animation/Motion Graphics 5–7 menit per topik sebagai acuan awal Durasi menyesuaikan kompleksitas konsep, proses, atau fenomena yang divisualisasikan.
Interview/Round Table Discussion Fleksibel Menyesuaikan kedalaman pembahasan, jumlah narasumber, dan topik diskusi.
Scenario/Field Video Fleksibel Menyesuaikan kebutuhan penyajian skenario, pengamatan, demonstrasi, atau analisis lapangan.

Untuk menjaga efektivitas video pembelajaran, perhatikan hal berikut:

  • Fokuskan setiap video pada tujuan atau topik pembelajaran yang jelas.
  • Hindari penjelasan yang berulang dan tidak berkaitan dengan materi utama.
  • Untuk video pembelajaran singkat atau mikrokonten, durasi sekitar 5–7 menit dapat digunakan sebagai acuan awal, dan diusahakan tidak melebihi 10 menit apabila cakupan materi memungkinkan.
  • Jika materi membutuhkan waktu lebih panjang, pertimbangkan pembagian video menjadi beberapa segmen (chunking) berdasarkan subtopik.
  • Pastikan setiap segmen memiliki pembahasan yang utuh dan mudah dipelajari kembali oleh mahasiswa.

Catatan: Durasi merupakan rekomendasi produksi, bukan batas maksimal yang berlaku untuk seluruh format video. Keutuhan materi, kejelasan penyampaian, dan ketercapaian tujuan pembelajaran tetap menjadi pertimbangan utama.

GBIM, Jabaran Materi, Naskah, Storyboard, dan Desain Visual

GBIM, Jabaran Materi (JM), naskah, dan storyboard merupakan dokumen yang digunakan untuk menerjemahkan rancangan pembelajaran menjadi video yang siap diproduksi. Dokumen tersebut membantu memastikan materi tersusun secara sistematis, narasi mudah dipahami, serta tampilan visual mendukung pencapaian tujuan pembelajaran.

Sebelum memulai produksi, pastikan rancangan video telah dikembangkan berdasarkan dokumen Rencana Materi dan Peta Learning Object (GBPM) yang telah disusun sebelumnya. Dokumen pengembangan video meliputi:

  • GBIM (Garis Besar Isi Media): Memuat kerangka isi video berupa indikator, pokok materi, dan sumber pembelajaran.
  • JM (Jabaran Materi): Merinci pokok materi menjadi uraian materi, alur program, dan kebutuhan visual.
  • Naskah (Script): Memuat narasi, dialog, urutan adegan, serta kebutuhan audio dan visual.
  • Storyboard: Menggambarkan urutan tampilan visual beserta narasi/audio dan durasi setiap adegan atau segmen.

GBIM merupakan kerangka isi video pembelajaran yang digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan materi dan menulis naskah. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Gunakan indikator dan topik pembelajaran yang telah ditetapkan dalam GBPM.
  • Tentukan pokok-pokok materi yang akan disampaikan dalam video.
  • Susun pokok materi berdasarkan urutan pembahasan yang logis.
  • Cantumkan sumber atau referensi yang digunakan.
  • Sesuaikan cakupan materi dengan tujuan dan durasi video.
  • Pastikan GBIM telah diperiksa oleh pengkaji materi dan pengkaji media sebelum dikembangkan lebih lanjut.
File Template

Format Dokumen GBIM (Garis Besar Isi Media) (.DOCX)

JM merupakan pengembangan lebih lanjut dari GBIM yang berisi uraian materi secara terperinci. Dokumen ini membantu penulis naskah memahami materi, urutan penyajian, dan kebutuhan visual yang akan ditampilkan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Gunakan pokok materi yang telah ditentukan dalam GBIM sebagai acuan.
  • Jabarkan setiap pokok materi menjadi uraian yang lebih lengkap dan mudah dipahami.
  • Susun alur penyampaian materi sesuai dengan format video yang telah dipilih.
  • Tentukan kebutuhan visual, seperti teks, gambar, diagram, animasi, atau demonstrasi.
  • Sertakan contoh, ilustrasi, atau kasus apabila diperlukan untuk memperjelas materi.
  • Pastikan ketepatan substansi dan kesesuaian visual telah diperiksa sebelum penulisan naskah.
File Template

Format Dokumen JM (Jabaran Materi) (.DOCX)

Naskah merupakan rancangan penyampaian materi yang memuat narasi, dialog, urutan adegan, serta kebutuhan audio dan visual selama video berlangsung. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Gunakan GBIM dan JM sebagai acuan penulisan naskah.
  • Sesuaikan naskah dengan format dan alur penyajian video yang telah ditentukan.
  • Susun narasi atau dialog menggunakan bahasa yang komunikatif dan mudah dipahami.
  • Tentukan urutan adegan atau segmen secara runtut.
  • Jelaskan kebutuhan tampilan visual dan audio pada setiap bagian.
  • Perkirakan durasi setiap adegan atau segmen agar sesuai dengan waktu penyajian.
  • Pastikan naskah telah diperiksa oleh pengkaji materi dan pengkaji media sebelum proses produksi.

Naskah dapat dilengkapi dengan:

  • Treatment: Gambaran pendekatan penyajian video, termasuk gaya penyampaian, alur umum, dan konsep visual.
  • Sinopsis: Ringkasan isi video yang menggambarkan pokok bahasan dan urutan pembahasan secara singkat.
  • Rincian Adegan: Uraian narasi, dialog, tampilan visual, kebutuhan audio, dan durasi.
File Template

Format Naskah Video Pembelajaran (.DOCX)

Storyboard dianjurkan untuk video pembelajaran yang dirancang secara khusus, terutama video yang menggunakan beragam adegan, ilustrasi, animasi, atau demonstrasi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Susun storyboard berdasarkan naskah yang telah diperiksa.
  • Tentukan urutan adegan atau segmen sesuai dengan alur video.
  • Gambarkan atau jelaskan tampilan visual yang akan muncul.
  • Cantumkan narasi, dialog, musik, atau efek suara yang diperlukan.
  • Tentukan perkiraan durasi setiap adegan atau segmen.
  • Pastikan kemunculan visual selaras dengan penjelasan audio.

Storyboard dapat disajikan dalam bentuk sketsa visual maupun tabel yang memuat Scene, Visual Source, Audio Source, dan Durasi.

Untuk video sederhana seperti Talking Head atau Narrated Presentation, storyboard dapat dibuat lebih ringkas. Sementara itu, Lecture Capture dapat menggunakan rundown atau daftar topik sebagai acuan perekaman.

File Template

Format Storyboard Video Pembelajaran (.DOCX)

Narasi sebaiknya menggunakan bahasa yang jelas, komunikatif, dan mudah diikuti, termasuk oleh mahasiswa yang hanya mendengarkan audio tanpa melihat layar. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Gunakan kalimat yang singkat dan tidak terlalu kompleks.
  • Jelaskan istilah teknis atau konsep baru sebelum membahasnya lebih lanjut.
  • Sesuaikan urutan penjelasan dengan tampilan visual yang muncul.
  • Ketika menampilkan grafik atau diagram, jelaskan informasi penting yang terkandung di dalamnya.
  • Hindari penggunaan kalimat seperti "Perhatikan gambar ini" atau "Seperti yang terlihat di sini" tanpa penjelasan tambahan.
  • Gunakan transisi antartopik agar penjelasan terasa runtut dan mudah diikuti.

Teks dalam video sebaiknya singkat, mudah dibaca, dan hanya menampilkan informasi penting yang mendukung penjelasan dosen. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Gunakan kata kunci atau poin-poin utama daripada paragraf panjang.
  • Hindari menampilkan terlalu banyak teks dalam satu waktu.
  • Jika materi cukup panjang, bagi menjadi beberapa tampilan secara bertahap.
  • Gunakan ukuran huruf yang tetap terbaca ketika video ditonton melalui perangkat seluler.
  • Pastikan teks memiliki waktu tampil yang cukup agar mahasiswa dapat membacanya.
  • Hindari mengulang seluruh narasi dosen dalam bentuk teks di layar, kecuali untuk keperluan aksesibilitas seperti caption.

Pemilihan huruf dan warna perlu memperhatikan keterbacaan, konsistensi, serta kenyamanan mahasiswa saat menonton video pembelajaran. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Gunakan huruf sederhana dan mudah dibaca, seperti Arial, Calibri, Open Sans, atau jenis sans-serif lainnya.
  • Ukuran teks sesuaikan dengan resolusi video dan jenis informasi. Pastikan teks tetap terbaca pada layar komputer maupun perangkat seluler.
  • Gunakan warna yang memiliki kontras jelas dengan latar belakang.
  • Sebagai acuan aksesibilitas yang selaras dengan WCAG 2.2, gunakan rasio kontras minimal 4,5:1 untuk teks biasa dan 3:1 untuk teks berukuran besar, dengan memperhatikan pengecualian yang berlaku.
  • Gunakan jenis huruf, warna, dan hierarki ukuran teks yang konsisten sepanjang video.
  • Hindari penggunaan warna sebagai satu-satunya cara untuk membedakan informasi.

Penataan elemen visual perlu dilakukan agar tampilan video terlihat rapi dan informasi pembelajaran mudah dipahami.

Tata Letak Video
Klik gambar untuk membuka preview template dan opsi unduh

Elemen visual sebaiknya digunakan untuk membantu mahasiswa memahami materi, bukan sekadar memperindah tampilan video. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Gunakan gambar atau ilustrasi yang relevan dengan materi yang sedang dijelaskan.
  • Pilih diagram untuk menunjukkan hubungan antarkonsep atau alur suatu proses.
  • Gunakan grafik untuk menjelaskan data, perbandingan, atau perubahan.
  • Gunakan animasi untuk memperlihatkan proses, gerakan, atau konsep yang sulit dijelaskan melalui gambar diam.
  • Tampilkan visual secara bertahap dan selaraskan kemunculannya dengan narasi dosen.
  • Hindari penggunaan animasi atau efek visual berlebihan yang dapat mengalihkan perhatian mahasiswa.
  • Pastikan gambar, grafik, dan ilustrasi yang digunakan akurat serta memperhatikan sumber dan hak cipta.

Disarankan. Video pembelajaran sebaiknya tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk berpikir, mengamati, atau menerapkan materi yang dipelajari. Beberapa aktivitas yang dapat diintegrasikan antara lain:

  • Pertanyaan Pemantik: Mengajukan pertanyaan sebelum atau selama video untuk mengarahkan perhatian mahasiswa.
  • Pengamatan: Meminta mahasiswa memperhatikan proses, contoh, atau fenomena tertentu dalam video.
  • Latihan: Memberikan soal atau tugas singkat untuk menerapkan konsep yang telah dipelajari.
  • Refleksi: Mengajak mahasiswa menghubungkan materi dengan pengalaman atau situasi nyata.
  • Diskusi: Mengarahkan mahasiswa untuk membahas pertanyaan atau studi kasus melalui LMS.

Persiapan dan Produksi

Kualitas video pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh perangkat yang digunakan, tetapi juga oleh teknik pengambilan gambar, pencahayaan, kejernihan suara, dan kesesuaian proses produksi dengan format video yang dipilih. Persiapan yang baik membantu menghasilkan video yang nyaman ditonton dan memudahkan mahasiswa memahami materi pembelajaran.

Sebelum memulai produksi, pastikan seluruh kebutuhan telah disiapkan sesuai dengan format video yang akan dikembangkan:

  • Pastikan naskah, storyboard, slide, dan bahan pendukung telah diperiksa dan siap digunakan.
  • Jika menggunakan kamera, periksa posisi, fokus, baterai, kapasitas penyimpanan, dan pengaturan perekaman.
  • Pastikan mikrofon berfungsi dengan baik apabila video menggunakan narasi atau suara langsung.
  • Atur pencahayaan agar wajah dosen, narasumber, atau objek yang direkam terlihat jelas.
  • Gunakan latar yang rapi dan tidak mengalihkan perhatian dari materi.
  • Pilih tempat yang tenang dan minim gangguan suara apabila melakukan perekaman langsung.
  • Untuk video berbasis presentasi atau animasi, pastikan aplikasi, aset visual, dan pengaturan proyek siap digunakan.
  • Pastikan penggunaan lokasi, materi, aset, dan perekaman peserta telah memperoleh izin yang diperlukan.

Posisi kamera perlu disesuaikan dengan format video agar dosen, narasumber, maupun objek pembelajaran terlihat dengan jelas:

  • Gunakan tripod atau penyangga agar kamera stabil dan tidak bergetar.
  • Untuk Talking Head, posisikan kamera sejajar dengan mata dosen.
  • Atur jarak kamera agar wajah dan gerakan tangan dosen terlihat secara proporsional.
  • Sisakan ruang pada sisi layar jika video akan dilengkapi teks, gambar, atau ilustrasi.
  • Untuk video demonstrasi, sesuaikan sudut kamera agar tindakan atau langkah penting terlihat jelas.
  • Pastikan kamera terfokus pada dosen atau objek utama selama perekaman.
  • Hindari penggunaan zoom digital secara berlebihan karena dapat menurunkan ketajaman gambar.
  • Jika menggunakan kamera ponsel, bersihkan lensa sebelum merekam dan gunakan posisi horizontal (landscape) untuk video dengan rasio 16:9.

Pencahayaan yang baik membantu memperjelas wajah dosen, narasumber, dan objek yang direkam. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Gunakan pencahayaan yang cukup dan merata pada wajah atau objek utama.
  • Hindari posisi membelakangi sumber cahaya yang terlalu terang, seperti jendela.
  • Manfaatkan cahaya alami atau lampu tambahan jika ruangan terlalu gelap.
  • Hindari perubahan intensitas cahaya yang mengganggu selama perekaman.
  • Pilih latar belakang yang sederhana, rapi, dan sesuai dengan konteks pembelajaran.
  • Jika menggunakan green screen, pastikan pencahayaan latar merata dan warna pakaian dosen tidak menyatu dengan warna layar.
  • Untuk perekaman di luar ruangan, perhatikan perubahan cahaya matahari dan kondisi lingkungan.

Suara merupakan salah satu komponen penting dalam video pembelajaran. Narasi dosen atau pembicara harus terdengar jelas dan mudah dipahami mahasiswa:

  • Gunakan mikrofon eksternal, seperti clip-on atau lavalier microphone, jika tersedia.
  • Tempatkan mikrofon pada jarak yang sesuai agar suara terdengar jelas dan stabil.
  • Lakukan perekaman di ruangan yang tenang untuk menghindari suara kendaraan, kipas, atau aktivitas lain.
  • Hindari ruangan dengan gema berlebihan.
  • Pastikan suara tidak terlalu kecil, terlalu keras, atau pecah (clipping).
  • Gunakan headphone untuk memeriksa kualitas audio sebelum dan sesudah perekaman.
  • Jika menggunakan musik latar atau efek suara, pastikan volumenya tidak mengganggu narasi utama.

Untuk menjaga kualitas suara dan kompatibilitas dengan berbagai perangkat, gunakan pengaturan standar audio berikut sebagai acuan produksi:

Parameter Audio Rekomendasi Pengaturan Keterangan / Catatan
Sample Rate 48 kHz Disarankan sebagai standar industri untuk sinkronisasi audio-video yang optimal.
Format Audio AAC Gunakan format AAC untuk audio yang disertakan dalam berkas video MP4.
Bitrate Audio Sekitar 128 kbps (atau lebih) Pengaturan awal saat ekspor, kemudian disesuaikan berdasarkan hasil pengujian.
Kanal Audio Mono atau Stereo Sesuaikan kebutuhan. Untuk narasi satu orang, audio mono yang direkam dengan baik sudah memadai.
Volume Audio Konsisten & Stabil Pastikan suara terdengar stabil dan tidak mengalami perubahan volume yang terlalu besar atau clipping.

Lecture Capture merekam kegiatan perkuliahan yang berlangsung agar dapat ditonton kembali oleh mahasiswa. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

Infografis Perekaman Kuliah yang Efektif
Klik gambar untuk memperbesar
  • Tempatkan kamera pada posisi yang memungkinkan dosen, papan tulis, dan aktivitas pembelajaran penting terlihat dengan jelas.
  • Pastikan suara dosen dan peserta yang berbicara terdengar dengan baik.
  • Jika menggunakan slide presentasi, pertimbangkan perekaman langsung keluaran layar agar tulisan lebih mudah dibaca.
  • Hindari perubahan posisi kamera yang berlebihan selama perkuliahan berlangsung.
  • Pastikan proses perekaman tidak mengganggu jalannya perkuliahan.
  • Perhatikan izin dan perlindungan identitas mahasiswa yang terekam.
  • Jika rekaman berdurasi panjang, tambahkan penanda waktu (timestamp) atau bagi menjadi beberapa segmen berdasarkan topik pembelajaran.

Talking Head menampilkan dosen atau pengajar yang berbicara langsung ke kamera. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

Panduan Studio Talking Head
Klik gambar untuk memperbesar
  • Posisikan kamera sejajar dengan mata dosen untuk membangun kesan komunikasi langsung.
  • Gunakan komposisi pengambilan gambar yang proporsional, misalnya dari dada hingga kepala (medium close-up).
  • Pastikan wajah mendapatkan pencahayaan yang cukup dan merata.
  • Gunakan latar belakang yang sederhana dan tidak mengalihkan perhatian mahasiswa.
  • Sampaikan narasi secara natural, dengan artikulasi dan kecepatan bicara yang mudah diikuti.
  • Jika menggunakan teleprompter, usahakan arah pandangan tetap mendekati lensa kamera.
  • Sisakan ruang visual apabila akan menambahkan teks, gambar, atau ilustrasi saat penyuntingan.

Lightboard Video menampilkan dosen yang menjelaskan materi sambil menulis atau menggambar pada papan transparan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

Panduan Studio Lightboard Video
Klik gambar untuk memperbesar
  • Gunakan papan transparan yang bersih dan memiliki pencahayaan yang memadai.
  • Atur posisi kamera agar tulisan dan gerakan dosen terlihat jelas.
  • Hindari pantulan cahaya yang dapat mengganggu keterbacaan tulisan pada papan.
  • Gunakan spidol dengan warna, ketebalan, dan tingkat kontras yang mudah dibaca.
  • Tulis atau gambar materi secara bertahap mengikuti penjelasan dosen.
  • Hindari memenuhi seluruh papan dengan tulisan atau diagram.
  • Periksa orientasi hasil rekaman dan lakukan pembalikan horizontal apabila diperlukan agar tulisan tidak terlihat terbalik.

Narrated Presentation menggabungkan slide, gambar, atau diagram dengan narasi suara. Format ini dapat diproduksi langsung melalui perangkat lunak presentasi atau aplikasi perekam layar.

Infografik Panduan Rekaman Pembelajaran
Klik gambar untuk memperbesar
  • Siapkan slide yang telah diperiksa substansi dan urutan penyajiannya.
  • Gunakan ukuran teks, gambar, grafik, dan diagram yang mudah dibaca.
  • Atur tampilan slide dengan rasio aspek 16:9 sesuai profil video yang digunakan.
  • Rekam narasi menggunakan mikrofon yang menghasilkan suara jelas dan stabil.
  • Pastikan narasi sesuai dengan slide atau informasi yang sedang ditampilkan.
  • Gunakan penunjuk atau sorotan untuk memperjelas bagian penting jika diperlukan.
  • Jika menampilkan wajah dosen melalui webcam, tempatkan pada area yang tidak menutupi informasi utama.
  • Tutup notifikasi dan aplikasi yang tidak berkaitan apabila menggunakan fitur perekaman layar.
  • Periksa hasil rekaman untuk memastikan tidak ada slide, animasi, atau narasi yang terpotong.

Video demonstrasi atau praktikum bertujuan memperlihatkan cara melakukan suatu prosedur atau keterampilan secara langsung.

Infografik Panduan Demonstration Video
Klik gambar untuk memperbesar
  • Susun urutan kegiatan berdasarkan langkah-langkah prosedur yang benar.
  • Pastikan seluruh alat dan bahan telah disiapkan sebelum perekaman.
  • Gunakan sudut pengambilan gambar yang memperlihatkan tindakan secara jelas.
  • Gunakan pengambilan gambar jarak dekat (close-up) untuk menunjukkan bagian atau gerakan yang membutuhkan perhatian khusus.
  • Jika diperlukan, gunakan lebih dari satu sudut kamera untuk memperlihatkan detail prosedur.
  • Jelaskan setiap langkah melalui narasi atau teks pendukung.
  • Tampilkan kondisi awal, proses, dan hasil akhir setelah prosedur dilakukan.
  • Sertakan petunjuk keselamatan jika demonstrasi melibatkan alat, bahan, atau aktivitas yang memiliki risiko.

Animation/Motion Graphics menggunakan elemen animasi untuk menjelaskan konsep, proses, atau fenomena pembelajaran. Produksinya dapat dilakukan melalui perangkat lunak animasi tanpa memerlukan perekaman kamera secara langsung.

Diagram Prosedur Produksi Animasi
Klik gambar untuk memperbesar
  • Pastikan konsep, alur animasi, dan tampilan visual telah direncanakan melalui naskah atau storyboard.
  • Gunakan karakter, objek, diagram, atau simbol yang relevan dengan materi.
  • Tampilkan proses atau perubahan secara bertahap agar mudah diikuti mahasiswa.
  • Sesuaikan kecepatan gerakan animasi dengan kompleksitas informasi yang disampaikan.
  • Sinkronkan animasi dengan narasi atau penjelasan suara.
  • Hindari penggunaan efek gerak, transisi, atau kedipan cahaya yang berlebihan.
  • Gunakan tipografi dan warna dengan kontras yang memadai agar informasi mudah dibaca.
  • Periksa hasil ekspor untuk memastikan gerakan, visual, dan audio berjalan sesuai rancangan.

Interview/Round Table Discussion menampilkan percakapan atau diskusi bersama narasumber untuk membahas suatu topik pembelajaran.

Diskusi Meja Bundar di Studio
Klik gambar untuk memperbesar
  • Tentukan topik dan daftar pertanyaan sebelum perekaman.
  • Atur posisi kamera agar moderator dan narasumber terlihat dengan baik.
  • Gunakan mikrofon yang sesuai agar suara setiap pembicara terdengar jelas.
  • Pastikan pencahayaan pada setiap narasumber cukup dan konsisten.
  • Hindari pembicaraan yang saling tumpang tindih agar isi diskusi mudah dipahami.
  • Tambahkan identitas atau nama narasumber pada awal kemunculannya.
  • Saat penyuntingan, pilih sudut pengambilan gambar yang sesuai dengan pembicara yang sedang menyampaikan pendapat.
  • Jika menggunakan caption, pastikan pergantian pembicara dapat dikenali dengan jelas.
  • Untuk diskusi berdurasi panjang, pertimbangkan pembagian video menjadi beberapa bagian berdasarkan topik.

Scenario/Field Video digunakan untuk menampilkan simulasi situasi tertentu atau kegiatan pengamatan langsung di lapangan. Proses produksinya perlu disesuaikan dengan karakteristik lokasi, aktivitas, dan tujuan pembelajaran.

Infografik Produksi Video Lapangan
Klik gambar untuk memperbesar
  • Tentukan skenario, objek, peristiwa, atau aktivitas yang akan ditampilkan.
  • Untuk video skenario, siapkan alur adegan, pemeran, dialog, dan kebutuhan lokasi sebelum perekaman.
  • Untuk video lapangan, tentukan objek pengamatan dan sudut pengambilan gambar yang dapat memperlihatkan konteks serta detail penting.
  • Gunakan kamera atau penyangga yang stabil, terutama ketika merekam aktivitas bergerak.
  • Perhatikan kondisi pencahayaan, cuaca, dan gangguan suara di lingkungan perekaman.
  • Gunakan mikrofon yang sesuai untuk perekaman di luar ruangan apabila diperlukan.
  • Pastikan kegiatan yang ditampilkan tidak menimbulkan risiko keselamatan bagi pemeran, peserta, maupun tim produksi.
  • Peroleh izin penggunaan lokasi dan perekaman pihak lain sesuai kebutuhan.
  • Sertakan narasi atau keterangan pendukung untuk memperjelas situasi, objek, atau fenomena yang ditampilkan.

Penyuntingan, Rendering, dan File Video

Setelah proses perekaman selesai, video perlu melalui tahap penyuntingan (editing) dan rendering agar siap digunakan dalam pembelajaran. Pada tahap ini, kualitas gambar, suara, teks, serta format file perlu diperiksa untuk memastikan video dapat diputar dengan baik melalui berbagai perangkat dan platform pembelajaran digital.

Penyuntingan bertujuan menghasilkan video yang runtut, jelas, dan nyaman ditonton tanpa mengurangi informasi penting dalam materi pembelajaran. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Pastikan penyampaian materi sesuai dengan alur atau storyboard yang telah direncanakan.
  • Periksa kembali istilah, angka, grafik, dan informasi yang ditampilkan.
  • Pastikan suara narasi sesuai dengan gambar atau aktivitas yang sedang ditampilkan.
  • Gunakan perpindahan antartampilan yang sederhana dan tidak mengalihkan perhatian.
  • Pastikan seluruh teks, gambar, dan animasi tampil pada waktu yang tepat.
  • Hilangkan jeda terlalu panjang, pengulangan yang tidak diperlukan, atau bagian yang tidak relevan.
  • Pastikan tidak ada informasi pribadi atau materi yang tidak memiliki izin untuk dipublikasikan.
  • Setelah penyuntingan selesai, putar kembali video untuk memastikan tidak terdapat kesalahan tampilan, suara terputus, atau bagian materi yang terlewat.

Video pembelajaran disarankan menggunakan resolusi dan rasio aspek yang mendukung tampilan gambar serta teks secara jelas:

Perbandingan Resolusi Video
Klik gambar untuk memperbesar perbandingan resolusi
  • Full HD (1920 × 1080 piksel): Resolusi utama yang direkomendasikan untuk menghasilkan video dengan tampilan yang tajam.
  • HD (1280 × 720 piksel): Dapat digunakan apabila terdapat keterbatasan perangkat atau kebutuhan distribusi tertentu, selama materi tetap terbaca.
  • Rasio Aspek 16:9: Direkomendasikan sebagai format utama video pembelajaran karena sesuai dengan tampilan layar komputer, laptop, dan berbagai perangkat digital.
  • Gunakan orientasi horizontal (landscape) untuk video pembelajaran dengan rasio 16:9.
  • Format vertikal atau persegi dapat digunakan untuk kebutuhan khusus, dengan tetap memperhatikan keterbacaan materi dan kesesuaian platform.
  • Pastikan resolusi video tetap sesuai dengan ukuran dan rasio aspek yang ditentukan saat proses rendering agar gambar tidak terlihat terpotong atau berubah proporsinya.

Untuk memastikan video dapat digunakan melalui berbagai perangkat dan platform pembelajaran, gunakan pengaturan berikut sebagai acuan saat melakukan rendering:

Parameter Ekspor Pengaturan Direkomendasikan Keterangan / Tujuan Kompatibilitas
Format File MP4 Memiliki kompatibilitas yang luas dengan berbagai perangkat dan LMS.
Codec Video H.264 Menghasilkan kualitas gambar yang baik dengan ukuran file yang relatif efisien.
Codec Audio AAC Menjaga kualitas suara dan memastikan kompatibilitas pemutaran audio.
Frame Rate 25 atau 30 fps Pengaturan standar umum, atau disesuaikan dengan frame rate rekaman asli.
Scan Type Progressive Memastikan tampilan video optimal pada layar monitor dan perangkat digital modern.

Setelah proses rendering selesai, pastikan file dapat diputar dengan baik melalui komputer, perangkat seluler, dan LMS yang digunakan dalam pembelajaran.

Bitrate merupakan jumlah data yang digunakan untuk menyimpan informasi video setiap detik. Pengaturan bitrate memengaruhi kualitas gambar dan ukuran file.

Karakteristik Video Rekomendasi Bitrate (1080p) Catatan Pengaturan Visual
Kategori Umum (Awal) 6 – 10 Mbps Titik awal pengaturan standar Full HD (1080p, 25–30 fps, Codec H.264).
Sederhana / Statis
(Slide Presentasi / Talking Head)
< 6 Mbps
(Bitrate Lebih Rendah)
Dapat dihemat selama teks, diagram, dan gambar tetap terlihat jelas.
Dinamis / Gerakan Tinggi
(Praktikum / Animasi / Lapangan)
8 – 12 Mbps
(Bitrate Lebih Tinggi)
Mencegah penurunan detail atau pecah saat terjadi perubahan visual cepat.

Catatan Pengaturan Bitrate:

  • Semakin tinggi bitrate, semakin besar jumlah data yang digunakan dan umumnya semakin besar ukuran file.
  • Hindari bitrate yang terlalu rendah karena dapat menyebabkan gambar terlihat pecah, buram, atau kehilangan detail.
  • Pengaturan bitrate sebaiknya disesuaikan dengan karakteristik video, kualitas hasil rendering, dan kebutuhan distribusi. Rentang tersebut merupakan rekomendasi awal, bukan ketentuan mutlak.

Setelah proses rendering selesai, lakukan pemeriksaan untuk memastikan tidak ada penurunan kualitas yang mengganggu penyampaian materi pembelajaran:

  • Pastikan video tidak terlihat buram, pecah, atau mengalami perubahan warna yang mengganggu.
  • Periksa apakah teks, grafik, dan ilustrasi tetap terbaca dengan jelas.
  • Pastikan narasi terdengar jelas, stabil, dan tidak mengalami gangguan.
  • Sinkronisasi: Pastikan suara, gambar, animasi, dan caption muncul pada waktu yang sesuai.
  • Periksa apakah tidak ada bagian gambar atau teks yang terpotong.
  • Pemutaran Video: Pastikan file dapat diputar dengan lancar di berbagai perangkat.

Setelah proses produksi dan penyuntingan selesai, siapkan seluruh file yang diperlukan agar video dapat digunakan, diperiksa, dan dikelola dengan baik. File yang perlu disiapkan meliputi:

  • Video hasil rendering dalam format MP4 sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan.
  • Teks keterangan yang tersinkronisasi dengan video, misalnya dalam format SRT atau VTT sesuai dengan dukungan platform.
  • Dokumen teks berisi narasi atau percakapan dalam video yang dapat diakses mahasiswa.
  • Judul, deskripsi singkat, mata kuliah, topik, durasi, dan informasi lain yang diperlukan untuk pengelolaan video.
  • Referensi serta informasi penggunaan gambar, musik, video, atau materi pendukung lainnya.
  • Hasil pemeriksaan atau Quality Control (QC) sebelum video dipublikasikan.
  • File penyuntingan dan hasil produksi berkualitas tinggi yang disimpan sebagai arsip apabila diperlukan untuk revisi pada masa mendatang.
  • Gunakan penamaan file yang konsisten dan mudah dikenali.
  • Pastikan seluruh file dapat dibuka serta sesuai dengan versi video final yang akan dipublikasikan.

Aksesibilitas dan Inklusivitas

Video pembelajaran perlu dirancang agar dapat diakses dan dipahami oleh seluruh mahasiswa, termasuk mahasiswa penyandang disabilitas. Penerapan aksesibilitas dapat dilakukan dengan menyediakan caption, subtitle, transkrip, deskripsi audio, serta fitur pemutaran yang memudahkan mahasiswa mengakses materi sesuai kebutuhannya.

Video pembelajaran rekaman yang memiliki narasi atau informasi audio penting perlu dilengkapi caption (teks keterangan) untuk mendukung aksesibilitas mahasiswa, khususnya mahasiswa dengan hambatan pendengaran. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Caption menampilkan narasi, percakapan, dan informasi suara penting dalam video.
  • Teks caption harus sesuai dengan audio dan muncul pada waktu yang tepat.
  • Pastikan caption mudah dibaca dan tidak menutupi informasi visual penting.
  • Jika video menggunakan lebih dari satu pembicara, berikan penanda pembicara apabila diperlukan.
  • Untuk video tanpa audio, siaran langsung, atau jenis media lainnya, kebutuhan aksesibilitas perlu disesuaikan dengan karakteristik medianya.

Ketiganya merupakan bentuk penyajian informasi dalam teks, tetapi memiliki fungsi dan konteks penggunaan yang berbeda:

Bentuk Teks Fungsi Utama Karakteristik & Format Penyajian
Caption
(Teks Keterangan)
Menampilkan narasi, percakapan, dan informasi suara penting yang tersinkronisasi dengan video. Umumnya menggunakan bahasa yang sama dengan bahasa asli dalam video. Membantu mahasiswa dengan hambatan pendengaran atau belajar di lingkungan bising.
Subtitle
(Teks Terjemahan)
Menampilkan terjemahan percakapan atau narasi ke dalam bahasa lain. Membantu mahasiswa yang tidak menguasai bahasa asli video agar tetap memahami materi pembelajaran.
Transkrip
(Transcript)
Menyajikan seluruh narasi atau percakapan video dalam bentuk dokumen teks terpisah. Disajikan sebagai file teks/HTML mandiri yang dapat dibaca, dicetak, atau diakses oleh perangkat pembaca layar (screen reader).

Transkrip membantu mahasiswa membaca kembali penjelasan dosen, mencari informasi tertentu, atau mempelajari materi tanpa harus memutar video. Agar transkrip mudah digunakan, perhatikan hal berikut:

  • Tuliskan seluruh narasi dan percakapan penting sesuai dengan isi video.
  • Gunakan tanda baca dan susunan paragraf yang jelas agar mudah dibaca.
  • Tambahkan judul atau subjudul untuk memisahkan bagian pembahasan.
  • Sertakan penjelasan informasi visual penting apabila diperlukan, seperti isi grafik, diagram, atau demonstrasi.
  • Pastikan istilah teknis, nama, angka, dan informasi lainnya ditulis dengan benar.
  • Sediakan transkrip dalam format dokumen yang mudah diakses, seperti HTML atau dokumen teks yang mendukung pembaca layar.

Deskripsi audio (Audio Description) diperlukan ketika video menampilkan informasi visual penting yang tidak dijelaskan melalui narasi utama. Deskripsi audio membantu mahasiswa dengan hambatan penglihatan memahami informasi yang ditampilkan di layar. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Jelaskan informasi penting dalam gambar, grafik, diagram, atau animasi.
  • Pada video demonstrasi, sebutkan tindakan, alat, dan perubahan yang sedang diperlihatkan.
  • Hindari penjelasan yang hanya mengandalkan ungkapan seperti "lihat gambar berikut" tanpa menyebutkan informasi pentingnya.
  • Jika memungkinkan, integrasikan penjelasan visual langsung ke dalam narasi utama.
  • Apabila informasi visual belum dapat dijelaskan melalui narasi utama, sediakan deskripsi audio tambahan sesuai kebutuhan.

Tidak disarankan. Caption yang dibuat menggunakan teknologi Automatic Speech Recognition (ASR) atau pengenalan ucapan otomatis perlu diperiksa kembali sebelum dipublikasikan. Meskipun teknologi ini dapat mempercepat pembuatan caption, hasil transkripsinya masih berpotensi mengandung kesalahan. Beberapa hal yang perlu diperiksa:

  • Pastikan setiap kata sesuai dengan narasi yang disampaikan.
  • Periksa istilah ilmiah, singkatan, nama, dan istilah asing.
  • Pastikan angka, satuan, serta informasi penting ditulis dengan benar.
  • Gunakan tanda baca agar kalimat mudah dipahami.
  • Pastikan caption muncul sesuai dengan waktu pengucapan.
  • Tambahkan penanda apabila terdapat beberapa pembicara dan diperlukan untuk memahami percakapan.
  • Hasil caption otomatis harus melalui pemeriksaan dan penyuntingan sebelum digunakan sebagai caption final.

Universal Design for Learning (UDL) merupakan pendekatan desain pembelajaran yang memperhatikan keberagaman kebutuhan, kemampuan, dan karakteristik mahasiswa. Dalam pengembangan video pembelajaran, prinsip UDL dapat diterapkan melalui tiga pendekatan utama:

Prinsip Utama UDL Fokus Pendekatan Bentuk Penerapan dalam Video Pembelajaran
Beragam Cara Penyajian Materi
(Multiple Means of Representation)
Menyediakan variasi format penyampaian informasi. Sajikan informasi melalui kombinasi narasi audio, gambar, diagram visual, caption, dan transkrip teks agar mahasiswa memiliki berbagai alternatif untuk memahami materi.
Beragam Cara Membangun Keterlibatan
(Multiple Means of Engagement)
Meningkatkan motivasi dan ketertarikan mahasiswa. Gunakan contoh kasus yang relevan, pertanyaan pemantik di awal/tengah video, studi kasus nyata, atau aktivitas refleksi interaktif.
Beragam Cara Menunjukkan Hasil Belajar
(Multiple Means of Action and Expression)
Memberikan fleksibilitas dalam demonstrasi pemahaman. Berikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menunjukkan pemahamannya melalui ragam pilihan aktivitas, latihan, atau tanggapan berbasis LMS.

Publikasi, Hak Cipta, Data, dan AI

Sebelum dipublikasikan, video pembelajaran perlu melalui pemeriksaan untuk memastikan bahwa konten dapat diakses dengan baik, tidak melanggar hak cipta, serta melindungi data pribadi. Selain itu, pengelolaan dan pembaruan video perlu dilakukan agar materi pembelajaran tetap relevan, akurat, dan dapat digunakan secara berkelanjutan.

Setelah video selesai diproduksi, lakukan pengunggahan dan pengujian melalui Learning Management System (LMS) atau platform pembelajaran digital yang digunakan di UPI. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Pastikan file video menggunakan format yang didukung oleh LMS.
  • Atur izin akses agar mahasiswa yang mengikuti mata kuliah dapat membuka video tanpa kendala.
  • Pastikan video dapat diputar, dijeda, dan diulang dengan baik.
  • Pastikan caption dapat ditampilkan dan transkrip tersedia serta dapat diakses mahasiswa.
  • Uji pemutaran video melalui komputer, laptop, dan perangkat seluler.
  • Pastikan seluruh tautan atau materi pendukung yang disertakan dapat diakses.

Setiap video pembelajaran perlu dilengkapi informasi atau metadata agar mudah dikenali, ditemukan, dan dikelola melalui LMS. Informasi yang perlu dicantumkan meliputi:

  • Judul video yang menggambarkan topik atau materi yang dibahas secara jelas.
  • Nama mata kuliah yang menggunakan video tersebut.
  • Pokok bahasan atau submateri yang dijelaskan.
  • CPMK atau Sub-CPMK yang didukung oleh video.
  • Identitas pengajar atau pihak yang terlibat dalam pengembangan materi.
  • Ringkasan isi atau manfaat video bagi mahasiswa.
  • Bahasa yang digunakan serta lama pemutaran video.
  • Informasi waktu pembuatan atau pembaruan video untuk memudahkan pengelolaan.
  • Gunakan judul dan deskripsi yang informatif agar mahasiswa dapat mengetahui isi video sebelum menontonnya.

Setiap materi yang digunakan dalam video pembelajaran perlu memperhatikan ketentuan hak cipta dan izin penggunaan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Utamakan gambar, ilustrasi, rekaman, atau materi yang dibuat sendiri oleh dosen atau tim pengembang.
  • Pastikan gambar, musik, video, atau aset lain dari pihak ketiga memiliki izin penggunaan yang sesuai.
  • Berikan atribusi kepada pemilik karya apabila diwajibkan oleh lisensi atau ketentuan penggunaan.
  • Manfaatkan aset berlisensi terbuka, seperti Creative Commons, dengan memperhatikan jenis dan persyaratan lisensinya.
  • Jangan menggunakan materi berhak cipta hanya karena tersedia secara bebas di internet.
  • Dokumentasikan sumber, jenis lisensi, dan bukti izin apabila diperlukan.
  • Perlu diperhatikan bahwa penggunaan materi untuk tujuan pendidikan tidak secara otomatis membebaskan seluruh kewajiban hak cipta. Pastikan penggunaannya sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku.
Creative Commons License
Klik gambar untuk memperbesar panduan lisensi Creative Commons

Video pembelajaran perlu dibuat dengan memperhatikan privasi dan perlindungan data pribadi mahasiswa, dosen, maupun pihak lain yang terlibat. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Pastikan perekaman dan publikasi wajah, suara, atau identitas seseorang memiliki dasar penggunaan yang sah, termasuk persetujuan apabila diperlukan.
  • Hindari menampilkan nomor identitas, alamat, nomor telepon, nilai, atau informasi pribadi lainnya yang tidak diperlukan.
  • Periksa kembali rekaman layar agar tidak menampilkan kata sandi, informasi akun, atau data mahasiswa.
  • Gunakan teknik blur, pemotongan gambar, atau penyamaran identitas apabila diperlukan.
  • Atur akses video sesuai dengan kebutuhan pembelajaran, terutama jika video menampilkan aktivitas atau informasi internal.
  • Simpan file rekaman dan dokumen terkait pada media penyimpanan yang aman serta hanya dapat diakses oleh pihak yang berwenang.
  • Pastikan pengelolaan data pribadi mengikuti ketentuan perlindungan data dan kebijakan yang berlaku di UPI.

Teknologi Artificial Intelligence (AI) dapat dimanfaatkan untuk membantu proses pengembangan video pembelajaran, selama penggunaannya memperhatikan ketepatan materi, etika, hak cipta, dan perlindungan data. Beberapa bentuk pemanfaatan AI antara lain:

  • Penyusunan Naskah: Membantu mengembangkan kerangka materi atau draf narasi.
  • Pembuatan Visual: Membantu menghasilkan gambar, ilustrasi, atau animasi pendukung.
  • Pengolahan Audio: Membantu mengurangi gangguan suara atau menghasilkan narasi sintetis.
  • Pembuatan Caption: Mengubah narasi menjadi teks secara otomatis.

Dalam penggunaannya, perhatikan hal berikut:

  • Pastikan materi yang dihasilkan AI telah diperiksa kebenaran dan kesesuaiannya oleh dosen atau ahli substansi.
  • Hindari penggunaan wajah atau suara seseorang tanpa izin yang sah.
  • Periksa hak penggunaan aset dan hasil produksi AI.
  • Jangan memasukkan data pribadi atau informasi rahasia ke dalam layanan AI tanpa dasar dan izin yang sesuai.
  • Informasikan penggunaan konten sintetis apabila diperlukan agar tidak menyesatkan mahasiswa.
  • Ikuti ketentuan dan kebijakan penggunaan AI yang berlaku di UPI.
  • AI digunakan sebagai alat bantu dalam pengembangan media pembelajaran, sedangkan tanggung jawab terhadap ketepatan dan kualitas materi tetap berada pada dosen atau penanggung jawab konten.

Video pembelajaran perlu dikelola dengan baik agar dapat digunakan kembali, diperbarui, atau disesuaikan dengan perkembangan materi dan kebutuhan pembelajaran. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Simpan video final, naskah, storyboard, caption, transkrip, dan file pendukung pada lokasi penyimpanan yang ditentukan.
  • Gunakan nama file yang jelas dan konsisten, misalnya berdasarkan mata kuliah, topik, dan versi.
  • Cantumkan nomor versi atau tanggal pembaruan untuk membedakan video lama dan terbaru.
  • Tinjau kembali materi apabila terdapat perubahan kurikulum, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, atau prosedur yang dijelaskan.
  • Lakukan revisi apabila ditemukan kesalahan informasi, perubahan substansi, atau masalah aksesibilitas.
  • Pastikan mahasiswa mengakses versi terbaru dan tidak diarahkan pada video lama yang sudah tidak relevan.
  • Catat bagian yang diperbarui beserta tanggal dan penanggung jawab revisi.

Preview Visual

Unduh Gambar

Scroll to Top